Pernahkah kalian
kecewa? Atau dikecewakan? Atau bahkan mengecewakan? Pasti pernah, bukan? Menurut
kalian, manakah yang lebih menyakitkan dari dikecewakan dan mengecewakan? Kalau
saya boleh menjawab, yang lebih menyakitkan adalah mengecewakan orang-orang
tersayang. Karena ketika kita mengecewakan mereka, entah sengaja atau tidak, pastilah
kita akan merasa dikecewakan. (Lho? Dikecewakan siapa?) Dikecewakan oleh diri
kita sendiri! Mengecewakan dan dikecewakan bagiku adalah satu paket. Ia adalah hukum
sebab-akibat.
31 Mei 2016. Saya melakukan
kesalahan fatal ketika mengerjakan tes SBMPTN. Pada saat saya mengerjakan tes
TKPA, kode soal belum sempat saya tulis. Saya sudah berfeeling tidak enak dan terasa berat hati ketika menyerahkan lembar
jawab saya kepada pengawas. Setelah tes TKPA selesai, dilanjut tes SOSHUM. Pada
saat tes SOSHUM hendak dimulai, pengawas mengingatkan agar jangan sampai lupa
menuliskan kode soal karena tadi ada kasus yang terjadi. Saya langsung ingat
kalau tadi saya belum sempat menuliskan kode soal TKPA di lembar jawab.
Perasaan kacau. Khawatir. Kosentrasi mendadak buyar ketika mengerjakan tes
SOSHUM. Saya ingin langsung berbicara yang sebenarnya kepada pengawas, tapi
tidak mungkin, jatah waktu mengerjakan belum habis. Akhirnya, setelah jatah
waktu habis, saya langsung menjelaskan kepada pengawas. Pengawas menyuruh saya
turun ke lantai 2 menemui ruang sekretariat D2. Sampai di ruang sekretariat D2,
saya disuruh menemui pengawas ruang saya. Saya langsung naik lagi menuju lantai
3, sampai di ruangan, pengawas sudah tidak ada. Saya kembali lagi ke ruang
sekretariat D2 dan disuruh menemui ruang sekretariat D1, katanya yang menangani
adalah ruang sekretariat D1. Sampai di ruang sekretariat D1, saya langsung
menjelaskan maksud saya. Tapi, pihaknya tidak berhak menangani hal tersebut,
saya disuruh langsung menemui pihak rektorat. Yaa, saya turuti. Meskipun saya
tidak tahu dimana ruang rektorat itu. Saya turun dari lantai 3. Ketika di
tangga lantai 3, tiba-tiba ada yang memanggil saya dan menyuruh saya bergabung
bersama teman-teman yang bermasalah sama dengan saya. Ada 4 anak waktu itu. Kami
disuruh menuliskan nama, nomor peserta, kode soal, dan ruang tes. Setelah itu,
kami diarahkan ke kantor FBS. Katanya bisa diselesaikan disana. Tapi sampai
disana, pihak kantor FBS tidak bisa membantu apapun kecuali membuatkan berita
acara atas masalah tersebut. Kami kembali diarahkan untuk menemui pihak
rektorat, khususnya di ruang admisi. Sampai ruang admisi, saya berbicara
menjelaskan yang sesungguhnya terjadi, tapi apa jawabnya? Tidak ada yang berhak
membuka dokumen yang sudah tersegel selain pihak pusat. Jadi, bagaimana nasib
saya? Entahlah. Itu sudah seleksi alam, katanya. Saya berkali-kali menenangkan
diri, memotivasi diri. Saya sadar, saya percaya, ini adalah jawaban atas doa
saya. Perlahan saya ikhlas dan berterimakasih karena Tuhan telah mengabulkan
salah satu harapan saya.
31 Mei 2016. Tanpa
sengaja, saya mengecewakan semuanya. Andai saya boleh memilih, saya akan
memilih derita ini biar saya saja merasakan, mereka jangan.
Tidak banyak yang
bisa saya katakan saat itu. Karena disaat-saat yang bagi saya saat paling
menyakitkan, saya tidak bisa berkata banyak menjelaskan apa yang sedang terjadi
dan apa yang sedang saya rasakan. Saya hanya bisa diam, merasakan,
membayangkan. Bagaimana cara yang tepat untuk saya menjelaskan? Bagaimana perasaan
mereka jika mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang seharusnya saya
lakukan? Saya tidak tahu. Saya belum tahu. Perasaan saya kalut kala itu. Disaat
seperti itu, saya hanya perlu waktu untuk sendiri. Untuk merenungi, untuk
berfikir, untuk memotivasi dan menenangkan diri saya sendiri.
Saya percaya,
keadilan Allah selalu ada. Meski kadang tak kasat di mata manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar