Minggu, 05 Juni 2016

Keadilan Allah selalu ada, meski kadang tak kasat mata



Pernahkah kalian kecewa? Atau dikecewakan? Atau bahkan mengecewakan? Pasti pernah, bukan? Menurut kalian, manakah yang lebih menyakitkan dari dikecewakan dan mengecewakan? Kalau saya boleh menjawab, yang lebih menyakitkan adalah mengecewakan orang-orang tersayang. Karena ketika kita mengecewakan mereka, entah sengaja atau tidak, pastilah kita akan merasa dikecewakan. (Lho? Dikecewakan siapa?) Dikecewakan oleh diri kita sendiri! Mengecewakan dan dikecewakan bagiku adalah satu paket. Ia adalah hukum sebab-akibat.
31 Mei 2016. Saya melakukan kesalahan fatal ketika mengerjakan tes SBMPTN. Pada saat saya mengerjakan tes TKPA, kode soal belum sempat saya tulis. Saya sudah berfeeling tidak enak dan terasa berat hati ketika menyerahkan lembar jawab saya kepada pengawas. Setelah tes TKPA selesai, dilanjut tes SOSHUM. Pada saat tes SOSHUM hendak dimulai, pengawas mengingatkan agar jangan sampai lupa menuliskan kode soal karena tadi ada kasus yang terjadi. Saya langsung ingat kalau tadi saya belum sempat menuliskan kode soal TKPA di lembar jawab. Perasaan kacau. Khawatir. Kosentrasi mendadak buyar ketika mengerjakan tes SOSHUM. Saya ingin langsung berbicara yang sebenarnya kepada pengawas, tapi tidak mungkin, jatah waktu mengerjakan belum habis. Akhirnya, setelah jatah waktu habis, saya langsung menjelaskan kepada pengawas. Pengawas menyuruh saya turun ke lantai 2 menemui ruang sekretariat D2. Sampai di ruang sekretariat D2, saya disuruh menemui pengawas ruang saya. Saya langsung naik lagi menuju lantai 3, sampai di ruangan, pengawas sudah tidak ada. Saya kembali lagi ke ruang sekretariat D2 dan disuruh menemui ruang sekretariat D1, katanya yang menangani adalah ruang sekretariat D1. Sampai di ruang sekretariat D1, saya langsung menjelaskan maksud saya. Tapi, pihaknya tidak berhak menangani hal tersebut, saya disuruh langsung menemui pihak rektorat. Yaa, saya turuti. Meskipun saya tidak tahu dimana ruang rektorat itu. Saya turun dari lantai 3. Ketika di tangga lantai 3, tiba-tiba ada yang memanggil saya dan menyuruh saya bergabung bersama teman-teman yang bermasalah sama dengan saya. Ada 4 anak waktu itu. Kami disuruh menuliskan nama, nomor peserta, kode soal, dan ruang tes. Setelah itu, kami diarahkan ke kantor FBS. Katanya bisa diselesaikan disana. Tapi sampai disana, pihak kantor FBS tidak bisa membantu apapun kecuali membuatkan berita acara atas masalah tersebut. Kami kembali diarahkan untuk menemui pihak rektorat, khususnya di ruang admisi. Sampai ruang admisi, saya berbicara menjelaskan yang sesungguhnya terjadi, tapi apa jawabnya? Tidak ada yang berhak membuka dokumen yang sudah tersegel selain pihak pusat. Jadi, bagaimana nasib saya? Entahlah. Itu sudah seleksi alam, katanya. Saya berkali-kali menenangkan diri, memotivasi diri. Saya sadar, saya percaya, ini adalah jawaban atas doa saya. Perlahan saya ikhlas dan berterimakasih karena Tuhan telah mengabulkan salah satu harapan saya.

31 Mei 2016. Tanpa sengaja, saya mengecewakan semuanya. Andai saya boleh memilih, saya akan memilih derita ini biar saya saja merasakan, mereka jangan.
Tidak banyak yang bisa saya katakan saat itu. Karena disaat-saat yang bagi saya saat paling menyakitkan, saya tidak bisa berkata banyak menjelaskan apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang saya rasakan. Saya hanya bisa diam, merasakan, membayangkan. Bagaimana cara yang tepat untuk saya menjelaskan? Bagaimana perasaan mereka jika mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang seharusnya saya lakukan? Saya tidak tahu. Saya belum tahu. Perasaan saya kalut kala itu. Disaat seperti itu, saya hanya perlu waktu untuk sendiri. Untuk merenungi, untuk berfikir, untuk memotivasi dan menenangkan diri saya sendiri.
Saya percaya, keadilan Allah selalu ada. Meski kadang tak kasat di mata manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar