Kata orang, kebersamaan itu indah. Pada beberapa sesi kehidupan, orang juga seringkali ditanyakan apakah mereka dapat bekerjasama
dengan baik atau tidak? Biasanya ada orang yang cenderung menyukai kesendirian dan sebagian
lagi lebih menyukai kesendirian untuk kenyamanan batin.
Kata orang, manusia itu adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup tanpa adanya kebersamaan dengan sesama manusia. Namun, mengapa ada beberapa orang yang mencintai
kesendirian? Kadang kebersamaan itu agak menyakitkan. Melalui kebersamaan yang sudah terjalin akrab berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, kebersamaan itu semakin erat. Rasa
semakin menyatu dengan hati. Namun, sayang, terkikis oleh hal-hal lain. Egoisme, lingkungan, dan kemauan hati bercampur pelahan menghapus semua hal-hal baik dalam kebersamaan itu. Dendam, dengki, emosi, amarah, bersatu menambah kacaunya kebersamaan itu. Lama kelamaan, rasa kebersamaan yang sudah lama
dipupuk itu pun memilih untuk menyerah. Mundur perlahan-lahan sampai hati sanggup mengatakan
selamat tinggal kebersamaan.
Pecah, terbagi, dan berpisah adalah ketiga hal yang sangat dibenci pada awal-awal kebersamaan. Namun, ketiga hal itu semakin kuat
muncul seiring dengan semakin bertambahnya pupuk waktu kebusukan kebersamaan itu. Dan di
saat itu, kata orang lebih baik berpisah daripada kebersamaan itu menyiksa sanubari hati dan batin.
Jembatan kebimbangan sayangnya semakin terlihat terbentang luas di depan pelupuk hati. Setiap hari, setiap saat, kebersamaan dan
perpisahan silih berganti menyebrangi jembatan
kebimbangan itu. Padahal, kata orang, ikuti saja kata hatimu. Sayangnya, pada saat itu, hati
sudah lemah dan hanya otak yang dapat berbicara. Dan sayangnya, perpaduan keduanya
akhirnya seringkali menghasilkan perpisahan yang menyisakan kenangan pahit akan kebersamaan
yang pernah terbina itu.
Selasa, 24 Februari 2015
Kebersamaan dan Kesendirian
Kesepian adalah aku , Kesendirian adalah aku
Ada kalanya kesendirian itu meneduhkan
Ada kalanya kesendirian adalah suatu pilihan, atau bahkan pelarian
Ada juga kesendirian yang dibuahkan oleh keadaan.
Malam ini Pengembara Jiwa ini sedang tidak ingin sendiri ….
Lelah sudah hanya berteman harap yang sayangnya hanya sejauh mimpi
Raga ini inginkan seseorang untuk berbagi,
Tempat muntahkan semua rasa yang menggerogoti isi kepala
Jiwa ini rindukan hati untuk berlabuh,
Tempat menambatkan segala asa yang inginnya menjadi nyata
Harus sejauh mana kaki ini harus menapak?
Berapa lama lagi harus melangkah dalam kegelapan dan meraba dalam keraguan?
Kemana perginya pelita yang dulu sempat menjadi penerang jiwa?
Mengapa seakan jalan ini tak berujung, dan semakin menyeretku kedalam penantian panjang akan arah dan tujuan? Kemana Pengembara ini harus mengakhiri pencariannya?
Wahai Pemilik Kehidupan,
Jangan biarkan Pengembara ini kembali tersesat dalam rasa kehilangan yang mematikan
Dan jangan biarkan rasa sakit menjadi kesudahannya..