Selasa, 24 Februari 2015

Kebersamaan dan Kesendirian

Kata orang, kebersamaan itu indah. Pada beberapa sesi kehidupan, orang juga seringkali ditanyakan apakah mereka dapat bekerjasama
dengan baik atau tidak? Biasanya ada orang yang cenderung menyukai kesendirian dan sebagian
lagi lebih menyukai kesendirian untuk kenyamanan batin.
Kata orang, manusia itu adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup tanpa adanya kebersamaan dengan sesama manusia. Namun, mengapa ada beberapa orang yang mencintai
kesendirian? Kadang kebersamaan itu agak menyakitkan. Melalui kebersamaan yang sudah terjalin akrab berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, kebersamaan itu semakin erat. Rasa
semakin menyatu dengan hati. Namun, sayang, terkikis oleh hal-hal lain. Egoisme, lingkungan, dan kemauan hati bercampur pelahan menghapus semua hal-hal baik dalam kebersamaan itu. Dendam, dengki, emosi, amarah, bersatu menambah kacaunya kebersamaan itu. Lama kelamaan, rasa kebersamaan yang sudah lama
dipupuk itu pun memilih untuk menyerah. Mundur perlahan-lahan sampai hati sanggup mengatakan
selamat tinggal kebersamaan.
Pecah, terbagi, dan berpisah adalah ketiga hal yang sangat dibenci pada awal-awal kebersamaan. Namun, ketiga hal itu semakin kuat
muncul seiring dengan semakin bertambahnya pupuk waktu kebusukan kebersamaan itu. Dan di
saat itu, kata orang lebih baik berpisah daripada kebersamaan itu menyiksa sanubari hati dan batin.
Jembatan kebimbangan sayangnya semakin terlihat terbentang luas di depan pelupuk hati. Setiap hari, setiap saat, kebersamaan dan
perpisahan silih berganti menyebrangi jembatan
kebimbangan itu. Padahal, kata orang, ikuti saja kata hatimu. Sayangnya, pada saat itu, hati
sudah lemah dan hanya otak yang dapat berbicara. Dan sayangnya, perpaduan keduanya
akhirnya seringkali menghasilkan perpisahan yang menyisakan kenangan pahit akan kebersamaan
yang pernah terbina itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar