Selasa, 28 Juni 2016

The Beautiful Life Because Of Full Of Love In Live


Tidak dipungkiri.. dalam hidup, semua makhluk membutuhkan cinta. Cinta dari Allah. Cinta dari orang tua, keluarga, saudara, sahabat dan sesama makhluk. Tetapi, tidaklah seimbang jika kita hanya mengharapkan cinta dari orang lain sedangkan kita sendiri tidak menebar cinta pada sesama. Karena pada hakikatnya cinta adalah memberi yang terbaik dari kita untuk mereka. Entah untuk mereka yang mencintai kita atau untuk mereka yang pernah menyakiti. Memberi cinta tanpa pilih. Cukup berpegang teguh pada ayat Allah dalam Q.S Ar-Rahman ayat 60 yang berbunyi “Tiada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.”  
Memberi cinta dengan ikhlas untuk mereka yang pernah menyakiti memang cukup sulit dilakukan jika kita belum sepenuhnya ikhlas memaafkan. Maka sebelum itu, maafkanlah mereka. Bukan semata demi mereka, tapi juga demi ketenangan dan kenyamanan hatimu. Percayalah, ada hal indah yang bisa kita rasakan jika kita mampu mencintai mereka yang pernah menyakiti J
Berbicara mengenai menyakiti. Terkadang kita terlalu egois dalam memandang luka hati. Kita memandang, seolah kitalah yang paling tersakiti dan orang lain yang terlalu kejam untuk menyakiti. Padahal? Memang tidak ada yang tahu isi hati seseorang. Namun bisa jadi, kita sakit hati bukan semata karena sikap orang lain, melainkan kita yang terlalu memanjakan hati. Memanjakan dengan harapan-harapan semu yang disematkan pada diri orang lain. Bisa jadi, orang lain melakukan itu demi kebaikan kita sendiri. Atau bisa jadi, Allah tengah mengajarkan arti kekuatan kepada kita melalui orang lain. Ya, memang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, hidup tak habisnya melulu soal itu.
 Dan pada akhirnya, kita akan disadarkan oleh kemungkinan-kemungkinan hidup. Teruntuk kalian yang membuatku tersadar, terimakasih telah berkenan memberi luka yang penuh dengan hikmah. Terimakasih telah mengajarkan aku banyak hal mengenai kehidupan. Terimakasih, karena kalian aku mulai bisa mengerti kekuatan dari berkasih sayang pada sesama. Tidak ada yang lebih indah dari itu. Terimakasih. Cara kalian memang lain, tapi itulah cara terbaik. Karena terkadang, seseorang harus ditonjok dulu agar mereka bisa sadar. Terimakasih, ya? Sangatlah tidak pantas dan tidak tahu terimakasih jika aku membenci cara kalian dalam memberiku pelajaran. Aku tidak benci kalian, teman. Rasa benci hanya akan merugikan diri sendiri. Aku memaafkan kalian semua. Berkenankah kalian memaafkan segala khilaf dan salahku pada kalian? Aku sayang kalian semua. J

***Ditulis dengan penuh kesadaran oleh Windi Mulyani di Kebumen 28 Juni 2016/23 Ramadhan 1437 AH.

Kamis, 16 Juni 2016

Review Novel "Love Sparks In Korea"

Assalamualaikum.. Izinkan saya sedikit mereview isi novel “Love Sparks In Korea” karya Asma Nadia dan bercerita bagaimana saya bisa memiliki novel sehebat ini.
Oke, awal cerita.. saya mendapatkan novel ini sebenarnya sudah cukup lama, tanggal 29 Desember 2015. Waktu itu, saya dan kakak saya menghadiri acara Kebumen Expo. Alhamdulillah, kakak saya selalu berbaik hati. Saya dibelikan novel itu yang bagi saya harganya tidaklah murah, bisa untuk beli bakso sekitar 7-8 mangkuk! Wkwkwk
Dengan waktu pembelian yang sudah cukup lama, entah kenapa, saya baru sempat membaca dan menuntaskan novel ini, atau lebih tepatnya baru disempatkan. Maklum, sok sibuk. Tapi, tak apa kan? Yang terpenting, novel itu saat ini sudah tuntas ku baca dan Insha Allah banyak nilai-nilai penting yang dapat saya pelajari. Alhamdulillah. Semoga bisa diaplikasikan di kehidupan nyata.
Novel ini menceritakan tentang sosok seorang wanita sederhana, terlihat lemah dalam fisik namun sejatinya, ia kuat dalam urusan hati dan iman keislamannya. Rania Timur Samudra. Dibalut dengan sikap ramah, respect, penuh keoptimisan, sabar, dan benar-benar pejuang masa depan dunia dan akhirat. Ibnu battutah. Salah satu sosok yang sering didengungkan oleh ayah tercintanya sebelum ia tidur yang mengakar kuat dalam hati dan fikiran. Sosok yang menjadi inspirasi bagi Rania untuk terus melangkahkan kaki lebih jauh dan terlebih jauh lagi. Hingga pada suatu titik, jiwa Ibnu Battutah perlahan merasuk dalam jiwa Rania.
Hebat! Rania memang tidak memilik gelar sarjana, tapi ia memiliki banyak kesempatan untuk merasakan hal-hal yang begitu tak terbayangkan. Bahkan oleh Rania sendiri. Rania yang di masa kecilnya hidup miskin dan sakit-sakitan, ternya pada usia dewasanya, ia mampu menginjakan kaki di beberapa negara dan puluhan kota-kota luar biasa di dunia, hal yang tidak bisa dirasakan oleh banyak orang.
Dalam perjalanannya, ia bertekad kuat untuk mendedikasikan semuanya untuk cita-cita dan keluarganya. Tekad yang kuat. Hingga pada akhirnya, hadir sesosok lelaki bernama Hyun Gwon. Lelaki asal korea yang berpenampilan cukup urakan namun berhati menenangkan. Penampilan memang tidak selalu bisa dijadikan sebagai barometer kepribadian.  

Minggu, 05 Juni 2016

Keadilan Allah selalu ada, meski kadang tak kasat mata



Pernahkah kalian kecewa? Atau dikecewakan? Atau bahkan mengecewakan? Pasti pernah, bukan? Menurut kalian, manakah yang lebih menyakitkan dari dikecewakan dan mengecewakan? Kalau saya boleh menjawab, yang lebih menyakitkan adalah mengecewakan orang-orang tersayang. Karena ketika kita mengecewakan mereka, entah sengaja atau tidak, pastilah kita akan merasa dikecewakan. (Lho? Dikecewakan siapa?) Dikecewakan oleh diri kita sendiri! Mengecewakan dan dikecewakan bagiku adalah satu paket. Ia adalah hukum sebab-akibat.
31 Mei 2016. Saya melakukan kesalahan fatal ketika mengerjakan tes SBMPTN. Pada saat saya mengerjakan tes TKPA, kode soal belum sempat saya tulis. Saya sudah berfeeling tidak enak dan terasa berat hati ketika menyerahkan lembar jawab saya kepada pengawas. Setelah tes TKPA selesai, dilanjut tes SOSHUM. Pada saat tes SOSHUM hendak dimulai, pengawas mengingatkan agar jangan sampai lupa menuliskan kode soal karena tadi ada kasus yang terjadi. Saya langsung ingat kalau tadi saya belum sempat menuliskan kode soal TKPA di lembar jawab. Perasaan kacau. Khawatir. Kosentrasi mendadak buyar ketika mengerjakan tes SOSHUM. Saya ingin langsung berbicara yang sebenarnya kepada pengawas, tapi tidak mungkin, jatah waktu mengerjakan belum habis. Akhirnya, setelah jatah waktu habis, saya langsung menjelaskan kepada pengawas. Pengawas menyuruh saya turun ke lantai 2 menemui ruang sekretariat D2. Sampai di ruang sekretariat D2, saya disuruh menemui pengawas ruang saya. Saya langsung naik lagi menuju lantai 3, sampai di ruangan, pengawas sudah tidak ada. Saya kembali lagi ke ruang sekretariat D2 dan disuruh menemui ruang sekretariat D1, katanya yang menangani adalah ruang sekretariat D1. Sampai di ruang sekretariat D1, saya langsung menjelaskan maksud saya. Tapi, pihaknya tidak berhak menangani hal tersebut, saya disuruh langsung menemui pihak rektorat. Yaa, saya turuti. Meskipun saya tidak tahu dimana ruang rektorat itu. Saya turun dari lantai 3. Ketika di tangga lantai 3, tiba-tiba ada yang memanggil saya dan menyuruh saya bergabung bersama teman-teman yang bermasalah sama dengan saya. Ada 4 anak waktu itu. Kami disuruh menuliskan nama, nomor peserta, kode soal, dan ruang tes. Setelah itu, kami diarahkan ke kantor FBS. Katanya bisa diselesaikan disana. Tapi sampai disana, pihak kantor FBS tidak bisa membantu apapun kecuali membuatkan berita acara atas masalah tersebut. Kami kembali diarahkan untuk menemui pihak rektorat, khususnya di ruang admisi. Sampai ruang admisi, saya berbicara menjelaskan yang sesungguhnya terjadi, tapi apa jawabnya? Tidak ada yang berhak membuka dokumen yang sudah tersegel selain pihak pusat. Jadi, bagaimana nasib saya? Entahlah. Itu sudah seleksi alam, katanya. Saya berkali-kali menenangkan diri, memotivasi diri. Saya sadar, saya percaya, ini adalah jawaban atas doa saya. Perlahan saya ikhlas dan berterimakasih karena Tuhan telah mengabulkan salah satu harapan saya.

31 Mei 2016. Tanpa sengaja, saya mengecewakan semuanya. Andai saya boleh memilih, saya akan memilih derita ini biar saya saja merasakan, mereka jangan.
Tidak banyak yang bisa saya katakan saat itu. Karena disaat-saat yang bagi saya saat paling menyakitkan, saya tidak bisa berkata banyak menjelaskan apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang saya rasakan. Saya hanya bisa diam, merasakan, membayangkan. Bagaimana cara yang tepat untuk saya menjelaskan? Bagaimana perasaan mereka jika mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang seharusnya saya lakukan? Saya tidak tahu. Saya belum tahu. Perasaan saya kalut kala itu. Disaat seperti itu, saya hanya perlu waktu untuk sendiri. Untuk merenungi, untuk berfikir, untuk memotivasi dan menenangkan diri saya sendiri.
Saya percaya, keadilan Allah selalu ada. Meski kadang tak kasat di mata manusia.