Kamis, 09 Oktober 2014

Surat Cinta Untuk Ayah

Ayah..
Aku selalu mengira kau terlalu
mengekangku dengan berbagai
aturan yang selalu tidak aku suka.
Masa muda yang menggoda selalu
membuatku ingin bebas.
Tapi, kita memang selalu tidak
senama jika bicara tentang
kebebasan. Semua kau lakukan hanya untuk melindungiku dari dunia sebenarnya.

Ayah..
Satu dua pendapat kita berlawanan. Tidak ada ayah yang sempurna. Tapi, seorang ayah hanya ingin mencintai dengan sempurna. Selalu inginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Hanya saja aku terlalu egois
menerima kasih sayang dari hati
besarmu itu..

Ayah..
Maafkan aku karena pernah sejenak aku melupakan cintamu.
Bodohnya aku karena mencari cinta diluar sana. Dungunya aku karena mencari cinta
dari orang asing. Yang kutahu semuanya tidak selamanya.
Padahal, cinta sebenar-benarnya
cinta sudah ada pada dirimu selama ini..

Ayah..
Suatu hari nanti , akan ada lelaki
lain dalam hidupku. Yang akan kau serahkan semua tanggungjawabmu selama
ini ,kepadanya. Lewat ucapan janji yang akan mengguncangkan langit.
Janji yang membuat Arsy-Nya
bergetar. Baktiku memang akan sepenuhnya untuknya kelak.
Tapi ayah, aku akan tetap jadi anak
perempuanmu. Aku akan tetap cinta kepadamu, ayah..

Teruntuk seorang ayah..
Surat ini kuakhiri dengan
permintaan maafku padamu.
Maaf atas semua kelancanganku..
Maaf atas semua kesalahanku,
kekhilafanku.. Maaf atas semua keangkuhan masa mudaku..
Ucap doa setiap sujudku tidak akan
kuakhiri sebelum kusebut namamu, bersama dengan nama ibu. Terima kasih, ayah..

Rabu, 08 Oktober 2014

Perpisahan Bukan Untuk Ditakuti

Setiap ada kata pertemuan pasti akan ada kata perpisahan. Namun perpisahan bukanlah akhir dari segalanya jika kita mampu menelaah lebih dalam makna dari perpisahan. Perpisahan mampu mengajarkan banyak hal bagi yang mampu mengambil pelajaran darinya. Perpisahan bukan kata yang menyeramkan, ia datang bukan untuk ditakuti, bukan pula disesali. Tetapi, ia datang dengan membawa setumpuk pelajaran. Mengajarkan untuk menghargai apa yang dimiliki sebelum waktu merenggutnya. Mengajarkan untuk mensyukuri apa yang ada sebelum Allah meniadakannya.

Yakinlah, setelah kata perpisahan, akan ada kata pertemuan dengan yang tak terduga. Allah penuh rahasia. Allah maha adil. Allah maha kuasa. Allah maha tau yang terbaik untuk makhluk-Nya.

Sepucuk Surat Untukmu Calon Imamku

Assalamu'alaikum wr. wb

Wahai imamku di masa depan, apa kabarnya engkau disana ? Masihkah semangat berjuang menemuiku ? Dan aku disini tak kenal kata lelah dan menyerah untuk senantiasa mencari ilmu, memantaskan diri di hadapan Allah, ku harap kaupun begitu.
Aku belajar banyak hal agar nanti suatu saat jika Allah sudah menentukan waktunya kita akan bertemu dan saat itu aku sudah benar-benar siap untuk berjuang di jalan dakwah bersamamu,
membela agama Allah. Mendidik calon mujahid dan mujahidah kecil kita spenuh hati, membangun keluarga yang penuh cinta dan bersama membangun istana di surga.

Ku sadar diriku jauh dari sempurna. Aku memang bukan Siti Khatijah tapi aku belajar setia darinya. Bukan pula Siti Asiyah tapi aku belajar bersabar darinya.
Aku bukanlah Siti aisyah tapi aku belajar ikhlas darinya dan bukanlah Fatimah binti Muhammad, tapi aku belajar tabah darinya.

Kau tau wahai imamku ?
Aku sangat akan cemburu. Semoga kita senantiasa dapat menjaga hati kita selagi berjauhan. Bersabarlah.. yakinlah Allah pasti akan mempertemukan kita. Jika bukan memang dunia ini tempat pertemuan kita insya Allah kita akan bertemu di jannahNya kelak.
Semangatlah duhai kasihku, aku selalu menunggumu..