“Setiap manusia adalah kekosongan.” –suaracerita
Ya, begitulah. Sejatinya, setiap manusia adalah kekosongan. Mengapa
disebut kekosongan? Karna tidak akan ada satupun manusia yang bisa bertahan
hidup sendiri. Manusia perlu orang lain, perlu pengisi. Maka dari itu, manusia
disebut makhluk sosial. Sesuatu yang kosong ; tanpa pengisi, sampai kapanpun ia
tak akan berarti sama sekali. Tapi, pengisi tidak boleh sembarang pengisi. Isi
kekosongan hidup kita dengan pengisi-pengisi yang baik. Siapakah pengisi yang
baik itu? – Pengisi pertama, pengisi terbaik kekosongan hidup kita adalah
Allah, Tuhan Yang Mahaesa. Pengisi terbaik, utama, tidak memiliki subtitusi.
Tanpa Allah, apalah arti hidup ini? Meski bermacam-macam pengisi, tapi jika
Allah tidak serta merta mengisi.. untuk apa? Pengisi kedua, yakni keluarga,
terkhusus orang tua;ayah-ibu.
Dalam kehidupan sosial, manusia memerlukan interaksi dengan
manusia lain. Tanpa interaksi, manusia akan tertinggal jauh, tidak tahu
apa-apa. Dari interaksi, muncul-lah sebuah relasi. Relasi adalah salah satu
sarana manusia untuk mengembangkan kehidupannya. Sarana untuk bekerja sama
mencapai tujuan bersama, bertukar fikiran dan pendapat, bertukar keluh kesah,
canda tawa dan suka duka. Setiap orang pastilah membutuhkan relasi, karna
setiap sisi kehidupan manusia menggunakan relasi di dalam setiap urusannya.
Sederhananya sepeti ; anak-anak membutuhkan relasi dengan
teman-temannya agar ia bisa bermain dan merasakan kebebasan. Remaja membutuhkan
relasi dengan teman-temannya agar ia bisa berbagi keluh kesah dan kisahnya
kepada teman-temannya, agar ia bisa mengerti arti sebuah persahabatan yang saling
memahami. Orang dewasa membutuhkan relasi dengan rekan-rekannya agar ia bisa
mengembangkan pola pikir, rencana-rencana, dan bisnis hidupnya. Agar ia bisa
memahami pemikiran-pemikiran yang belum ia pahami. Ya, setiap orang membutuhkan
relasi dengan siapapun, entah balita, anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang
tua. Semuanya membutuhkan relasi tidak hanya dengan orang sekitar agar ia bisa
mengerti yang belum ia mengerti, agar ia
bisa memperluas cakrawala diri, menemukan inovasi-inovasi, dan
pemikiran-pemikiran yang menakjubkan.
Relasi yang kuat tidak ditemukan, melainkan diciptakan,
dirawat, dan dipupuk dengan rasa saling percaya, saling mengerti, dan saling
menyemangati. Tanpa ada satupun niat untuk menjatuhkan mendahului ataupun
memecah belah relasi yang telah dicipta bersama.
By : Windi Mulyani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar