Sabtu, 07 Mei 2016

The Power Of Relation


“Setiap manusia adalah kekosongan.” –suaracerita
Ya, begitulah. Sejatinya, setiap manusia adalah kekosongan. Mengapa disebut kekosongan? Karna tidak akan ada satupun manusia yang bisa bertahan hidup sendiri. Manusia perlu orang lain, perlu pengisi. Maka dari itu, manusia disebut makhluk sosial. Sesuatu yang kosong ; tanpa pengisi, sampai kapanpun ia tak akan berarti sama sekali. Tapi, pengisi tidak boleh sembarang pengisi. Isi kekosongan hidup kita dengan pengisi-pengisi yang baik. Siapakah pengisi yang baik itu? – Pengisi pertama, pengisi terbaik kekosongan hidup kita adalah Allah, Tuhan Yang Mahaesa. Pengisi terbaik, utama, tidak memiliki subtitusi. Tanpa Allah, apalah arti hidup ini? Meski bermacam-macam pengisi, tapi jika Allah tidak serta merta mengisi.. untuk apa? Pengisi kedua, yakni keluarga, terkhusus orang tua;ayah-ibu. 

Dalam kehidupan sosial, manusia memerlukan interaksi dengan manusia lain. Tanpa interaksi, manusia akan tertinggal jauh, tidak tahu apa-apa. Dari interaksi, muncul-lah sebuah relasi. Relasi adalah salah satu sarana manusia untuk mengembangkan kehidupannya. Sarana untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama, bertukar fikiran dan pendapat, bertukar keluh kesah, canda tawa dan suka duka. Setiap orang pastilah membutuhkan relasi, karna setiap sisi kehidupan manusia menggunakan relasi di dalam setiap urusannya. 

Sederhananya sepeti ; anak-anak membutuhkan relasi dengan teman-temannya agar ia bisa bermain dan merasakan kebebasan. Remaja membutuhkan relasi dengan teman-temannya agar ia bisa berbagi keluh kesah dan kisahnya kepada teman-temannya, agar ia bisa mengerti arti sebuah persahabatan yang saling memahami. Orang dewasa membutuhkan relasi dengan rekan-rekannya agar ia bisa mengembangkan pola pikir, rencana-rencana, dan bisnis hidupnya. Agar ia bisa memahami pemikiran-pemikiran yang belum ia pahami. Ya, setiap orang membutuhkan relasi dengan siapapun, entah balita, anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua. Semuanya membutuhkan relasi tidak hanya dengan orang sekitar agar ia bisa mengerti yang belum ia mengerti, agar ia  bisa memperluas cakrawala diri, menemukan inovasi-inovasi, dan pemikiran-pemikiran yang menakjubkan.
Relasi yang kuat tidak ditemukan, melainkan diciptakan, dirawat, dan dipupuk dengan rasa saling percaya, saling mengerti, dan saling menyemangati. Tanpa ada satupun niat untuk menjatuhkan mendahului ataupun memecah belah relasi yang telah dicipta bersama. 

By : Windi Mulyani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar