Sabtu, 16 Januari 2016

Tragedy Of 2 August 2015

Nekat? Ya, mungkin itu sebutan yang tepat untukku. Di umurku yang belum genap 17 tahun, kenekatanku tumbuh begitu pesat. Cerita ini bermula dari ponselku yang mengalami rusak berat dan hanya bisa diperbaiki di service centernya. Berdasarkan hasil googling, tempat center terdekat ada di Yogyakarta, tepatnya di Jl. Kejayan.
“Dimana? Bagaimana? Bisa kah?” pertanyaan itu sontak memenuhi pikiranku. Aku coba mencari tahu lebih jelas mengenai lokasinya dengan meminta bantuan MAPS. Ternyata, lokasi berdekatan dengan UNY! Semangat tersendiri bagiku. Ketakutan-ketakutan seolah sirna, meski jika dilihat dari hasil MAPS, lokasi cukup jauh dari stasiun tugu dan harus menempuh waktu cukup lama agar tiba disana. 
Ingatanku berpihak pada seseorang yang sedang bertugas di Jogja, sebut saja Mr. X. Langsung ku hubungi nomornya dan tanpa basa-basi aku mengutarakan maksudku. Alhasil, dia bersedia membantu & menemani perjalananku di Jogja.
Malam hari sebelum hari keberangkatan ( 2 Agustus 2015), aku menyiapkan segala sesuatu yang aku butuhkan, tidak banyak, hanya sebotol pocary, tissue, dan yang utama yakni uang.  Ketakutan-ketakutan kembali menghampiriku, bagaimana tidak? Akhir-akhir itu, sedang marak-maraknya berita begal motor. Aku cemas, “bagaimana jika malam esok aku tidak lagi berada disini, di kamar ini?”
Huump. Hanya bisa meyakinkan diri sendiri, “Allah bersamamu, Windi.” Ku pejamkan mata lebih awal, karna besok pagi harus tiba di stasiun kereta pramex sebelum pukul 07.00.

*** 2 Agustus, pukul 05.30***
Dengan penuh keyakinan, aku beranjak pergi meninggalkan rumah menggunakan motor pukul 05.30. Pertama, aku harus isi amunisi motor (bensin) sampai full, karna perjalanan ini pastilah menghabiskan banyak BBM. Kedua, menuju stasiun Prembun. Pada saat itu, kereta pramex kabarnya berada di Prembun. Tetapi setelah tiba di stasiun Prembun, “Maaf, mbak.. kereta pramex sudah tidak lagi di Prembun, sudah pindah lagi ke tempat asalnya, stasiun Kutoarjo.” Aku diam sesaat. “Omegosh, stasiun Kutoarjo? Seumur hidup baru satu kali ke Kutoarjo, itu pun bareng teman dan hanya ke SAC.” Melihat aku terdiam, bapak satpam bertanya, “Sudah pernah ke stasiun Kutoarjo?” “Belum.” Jawabku singkat. Satpam itu senyum simpul, “mau diantar kesana?” tawarnya. “Eh, tidak usah. Aku sendiri aja, makasih pak. Permisi.. “
Waktu menunjukan pukul 06.00, aku langsung bergegas menuju stasiun Kutoarjo, meski tidak ada bayangan sedikitpun. Dengan harap-harap cemas dan ketakutan yang kembali menggerogoti pikiranku, sekuat tenaga hanya bisa meyakinkan “sudah sejauh ini, jangan mundur, pasti ada jalan!”
Di sepanjang jalan di Kutoarjo, aku bertanya tempat stasiun Kutoarjo kepada salah satu siswi berpakaian pramuka yang berada di pinggir jalan. “lurus terus, kalau ada pertigaan, belok ke selatan.” Katanya.
Aku ‘manut’ dan langsung ‘cusss’. Cukup jauh, aku belum menemukan pertigaan itu. Aku bertanya lagi ke salah satu bapak di pinggir jalan. “sudah dekat, sekitar 500 meter lagi” katanya. Mendengar itu, aku langsung bergegas melaju.
***Pukul 07.00***

Akhirnya, sampai juga di stasiun Kutoarjo, yeah! Ini pertama kalinya aku memasuki stasiun. Bingung? Pasti. Loketnya dimana, ini gimana, itu gimana, aih. Aku langsung bergegas bertanya ke pak satpam, “itu loketnya disana, loket belum buka, keberangkatannya nanti pukul 08.45” jelasnya. Loket belum buka, ini keuntungan tersendiri bagiku agar tidak kehabisan tiket.
Tiket pramex sudah ditangan! Sembari menunggu waktu keberangkatan yang kurang lebih masih satu setengah jam, aku duduk di teras stasiun menghadap utara, bergabung dengan calon penumpang lain yang sedang menunggu. Meski belum kenal dan tidak seumuran, kami sesekali mengobrol tentang maksud dan tujuan kami hingga sampai disini.
Pukul 08.00, kami calon penumpang diarahkan masuk ke dalam ruang tunggu. Aku duduk menghadap selatan, memandangi penumpang yang hendak berangkat dan penumpang lain yang sedang turun. Tiba-tiba, ada 2 orang cewek menghampiri dan duduk disebelahku, 1 duduk di sebelah kiriku, dan satunya lagi di sebelah kananku, aku berada di tengah-tengah mereka. Sesekali aku melihat tulisan di bagian belakang baju cewek yang berada di kananku, ada tulisan Universitas Gadjah Mada. Aku terdiam mendengar obrolan mereka, obrolan mahasiswi UGM, obrolan yang menarik! :D

Tiba pukul 08.45, tetapi kereta tak kunjung datang. Ternyata ada keterlambatan, menjadi pukul 09.30.. tak apa, bagiku. Pukul 09.30, kereta tak kunjung jua datang. Huft. Sampai pukul 10.00, kereta pramex datang. Aku bergegas masuk dan menulis pesan kepada Mr. X “aku baru  masuk kereta, ada keterlambatan tadi. Tunggu aku di stasiun tugu pukul 11.00.”

***Pukul 11.00, Stasiun Tugu Yogyakarta***

Pukul 11.00, aku turun dari kereta dan berjalan menuju depan stasiun. Aku berdiri di pinggir jalan menunggu Mr. X menjemputku. Tak selang lama, ia datang dengan berjalan kaki. Kami langsung berjalan menuju Trans Jogja. Kami naik Trans Jogja dengan tujuan Jl. Kejayan. Di dalam Trans Jogja, aku terdiam memandangi kota Jogja. Kami naik turun Trans Jogja sampai 3  kali sebelum sampai di Jl. Kejayan.  

***Pukul 12.30, Jalan Kejayan***

Sampai di jalan Kejayan, kami turun dan memulai pencarian kami, tempat center. Sesuai GPS, kami berjalan ke arah timur lalu menyebrang jalan ke selatan. Di sebelah selatan jalan, terdapat berjajar sevice center. Kami masuk ke salah satunya. Mr X menjelaskan kedatangan kami. Pihak service center memeriksa ponselku. Hump. Proses perbaikan memerlukan waktu cukup laam dan hanya bisa diambil besok pagi. Dengan terpaksa, ponselku menginap disana dan aku pulang dengan tangan hampa.
Pukul 13.10, aku dan Mr. X berjalan menuju Trans Jogja dengan tujuan terminal bus ; mengantarku pulang. Hanya bisa terdiam di Trans Jogja. Namun ada pemandangan menarik di dalam Trans Jogja, ada penumpang Ibu dan 3 anak yang berasal dari Papua, berciri khas sekali. Lalu, ada seorang wanita bersama temannya yang berasal dari California, wanita tersebut ternyata adalah salah satu mahasiswi UGM. Karna meihat ada ‘bule’, salah satu penumpang lain mencoba mengobrol dengannya dengan menggunakan bahasa Inggris, sesekali kami penumpang Trans Jogja tertawa mendengar percakapan mereka yang tidak jelas kemana arahnya :D
Trans Jogja penuh dengan penumpang, aku terpaksa berdiri bersebelahan dengan Mr. X. “Itu tempat aku bertugas.” Mr. X menunjukan sebuah tempat kepadaku. Aku hanya mengangguk.  

Trans Jogja berhenti di dekat terminal bus Jogja, aku dan Mr. X bergegas turun, lalu kami menuju terminal bus Jogja. Mr X hanya mengantarku, aku langsung masuk ke dalam bus dengan tujuan Kutoarjo.  
Di dalam bus, aku duduk bersama seorang ibu dengan tujuan yang sama, Kutoarjo. Sesekali kami mengobrol mengenai tujuan kami di Jogja.
Di dalam bus, aku lebih sering diam, memilih memandang ke luar melalui kaca bus sembari mengingat kejadian-kejadian yang baru saja aku lewati, kejadian yang tidak akan pernah terlupakan.
Waktu sudah menunjukan pukul 16.00, tetapi Kutoarjo masih sangat jauh, ditambah bus yang sering berhenti di tengah perjalanan, huft. Hingga ketakutan itu kembali muncul, “bagaimana jika nanti aku sampai di Kutoarjo nya maghrib?” “Bagaimana aku bisa pulang?” Takut! Namun, aku coba menenangkan diri, berpositif thinking. Mau tidak mau, itu semua harus dilalui.
Ponselku bergetar, pesan dari Mr. X yang menanyakan keberadaanku. “baru sampai Purworejo, bagaimana kalau nanti waktu maghrib aku masih di perjalanan sendiri?” balasku cemas. “tidak apa-apa, jalan menuju Kebumen cukup ramai kok, tenang aja ya.” Balas Mr. X. Balasan penenang.
Pukul 17.00, bus berhenti di pertigaan Kutoarjo, aku turun meninggalkan bus. Lalu berjalan kaki menuju stasiun Kutoarjo untuk mengambil motorku.
Motor sudah ditangan. Aku bergegas melaju menuju Kota Kebumen. Dalam perjalanan, tidak bisa dipungkiri ; aku takut! Tapi , bisa apa?
Pukul 17.40, aku sampai di Kota Kebumen, fyuh.. akhirnya! Tinggal melaju menuju rumah.
Alhamdulillah, pukul 18.00 sampai di rumah dengan selamat. Thanks to Allah, Thanks to Mr. X, and Thanks to all. That’s the greatest moment! Dalam kenekatan, ku temukan banyak hal. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar