Minggu, 20 Agustus 2017

Sukses dulu, baru kamu

Lelah. Hal itu yang ku rasakan saat dipenuhi tuntutan. Tuntutan dari kampus, UKM, kewajiban di kost, dan kewajiban memperhatikanmu, eeaaa. Terlebih bagi diriku yang cukup ambisius, saat target penting tidak tercapai, rasanya begitu menyesal dan nyesek:(
Aku tahu, aku harus memilih, membuat skala prioritas. Disinilah, opportunity cost berlaku.
Bismillah, aku memutuskan untuk fokus pada kuliah dan target-target ku. Maaf, aku mengorbankanmu. Aku tidak sanggup memenuhi semua tuntutan itu dengan baik, pasti harus ada sesuatu yang dikorbankan. Biar aku fokus dulu, mengenai kamu, semoga berbahagia. Tidak mengapa kamu kesal denganku, aku tidak akan banyak berkata-kata padamu, hurt people hurt people, silence just for a while is better. Biar kelak ku jelaskan dengan hasil kerja kerasku, semoga engkau mengerti.

Kamu, masa lalu, dan masa lalu tidak akan menang, karena ia tertinggal jauh di belakang.

Aku tenang melepasmu. Jika kau berkata, "hidupku lebih terarah jika bersamamu." maka aku justru akan berkata, "hidupku jauh lebih terarah tanpamu, target-targetku terlihat lebih jelas, fokusku terpelihara."

Sekali lagi, maafkan diriku yang lebih memilih diam.

Aku berada disini, di kota ini, Surakarta, tidak dengan membawa tangan hampa. Aku disini membawa segenggam impian-impian, dan impian-impian itu melekat kuat dalam hati dan fikiranku.

Maaf, sukses dulu, baru kamu, pasanganku kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar