
IDENTITAS
Judul : Pulang
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika Penerbit
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2015
Cetakan Ke-VII : November 2015
Cover : Soft Cover
Jumlah halaman : iv+ 400 halaman
ISBN : 978-602-082-212-9
Tere Liye merupakan nama pena seorang penulis tanah air yang berbakat. Nama pena Tere Liye sendiri diambil dari bahasa India dan memiliki arti “untukmu”. Nama aslinya adalah Darwis. Tere Liye telah menerbitkan lebih dari 20 novel ini, kini Tere Liye hadir kembali dengan novel barunya, novel yang hadir dengan tema yang bersifat kebaruan ini menjadi keunggulan tersendiri bagi Tere Liye. Selain itu, alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur flashback, yang berhasil menjadikan isi novel ini tidak mudah tertebak dan membuat pembaca penasaran untuk terus membaca kelajutan cerita.
Novel tersebut berjudul Pulang. Novel dengan kisah petualangan hebat yang memicu adrenalin setiap pembacanya. Novel yang menceritakan tentang perjuangan seorang anak kampung pedalaman Sumatra untuk meraih impian-impian hebat di luar sana dengan melewati satu pertarungan ke pertarungan berikutnya demi memeluk erat kesedihan dan kebencian lantas menuju ujung yakni pulang ke hakikat kehidupan. Penulis lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengungkapkan hal yang seolah maya (shadow economy) dengan amat gamblang dan terperinci, pembaca seolah-olah diajak untuk menonton pertunjukan, pertarungan dan berfantasi dengan hebat. Novel ini berhasil membawa pembacanya dalam ketegangan pertempuran dan perihal kesenduan kisah hidup. Penulis juga amat piawai membungkus nasihat dan pemahaman hidup dengan kemasan yang cantik. Tidak hanya itu, novel ini juga sudah berhasil memiliki fungsi moral dan didaktif-edukatif serta bermanfaat guna melembutkan jiwa, memperhalus moral.
Pertama saya melihat buku ini, saya merasa kurang tertarik dengan cover bagian depan, karena hanya berisi judul & nama penulis novel, tidak disertai tulisan lain yang mendukung isi novel. Gambarnya-pun kurang menarik dan bagi saya sulit dimengerti. Berbeda halnya pada cover novel Tere Liye yang berjudul Rembulan Tenggelam di Wajahmu, novel tersebut memiliki cover yang jauh lebih menarik karena disertai dengan beberapa kalimat dan gambar pendukung. Tapi, ya sudahlah..
Lalu saya menengok cover bagian belakang dan saya menemukan kalimat yang berhasil membuat saya tertarik untuk mendalami novel ini. Berikut kalimatnya :
“Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk semua kebencian dan rasa sakit.”
Kisah ini berawal dari Talang/pedesaan di pedalaman rimba Sumatra. Disana hiduplah seorang pensiunan jagal bernama Samad. Ia tinggal bersama istri dan anaknya, Hamidah dan Agam, atau yang kerap kali dipanggil Bujang. Hamidah adalah seorang putri dari Tauke Imam, pemuka agama di Pulau Sumatra. Pernikahan kedua insan dari strata dan kultur berbeda itu menyebabkan mereka harus terusir dari kampung, lantas menetap di Talang. Hamidah sering mendidik Bujang dengan ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Tetapi, berbeda dengan Samad yang berketurunan darah Perewa, ia tidak suka Bujang belajar ilmu Agama, bahkan Samad memukul Bujang habis-habisan jika ia tahu Bujang sedang belajar agama.
Suatu hari, datanglah Tauke Muda bersama rombongannya. Tauke muda yang merupakan teman Samad di Kota, sangat akrab dengan Samad bahkan sudah menganggap Samad sebagai saudara angkatnya. Tauke datang karena diundang Samad untuk mengatasi babi-babi hutan yang mengganggu kebun warga di Talang.
Pukul 3 sore, berangkatlah Tauke muda dan rombongannya ke dalam hutan untuk berburu babi hutan. Bujang ikut bersama rombongan Tauke besar. Meskipun Hamidah melarang Bujang untuk ikut, tapi akhirnya ia setuju setelah Samad membujuknya. Dengan bersenjatakan tombak milik bapaknya, Bujang ikut berburu bersama Tauke dan rombongannya. Satu persatu babi hutan berjatuhan, rombongan terus masuk ke hutan yang paling dalam untuk menghabisi babi hutan sampai ke akar-akarnya. Pertarungan seru terjadi ketika seekor babi hutan sebesar sapi dewasa mengamuk. Babi itu menyeruduk siapa saja yang ada di depannya, semua anggota rombongan terluka dan menjadi korbannya, tak terkecuali Tauke. Bujang yang melihat kejadian itu, memutuskan untuk melawan. Bujang melawan babi buas itu sekuat tenaga, hingga akhirnya tombak Bujang menembus moncong hingga punggung babi tersebut, babi itu langsung tak berdaya. Saat itulah rasa takutnya seperti dikeluarkan dari dadanya dan ia siap melakukan pertarungan hebat yang akan dikenang. Sejak saat itu, ia tidak lagi mengenal definisi rasa takut dan menyadari warisan leluhurnya yang menakjubkan.
Kejadian melawan babi hutan menjadi awal kisah hidup baru bagi Bujang yang waktu itu masih 15 tahun. Tauke Muda mengajaknya pergi ke kota. Bapaknya menyetujuinya, mamaknya berat melepaskan. Namun ia tak kuasa menolak. Ini adalah bagian dari perjanjian antara Bapak Bujang dengan Tauke Muda.
Sebelum ia berangkat, mamaknya berpesan kepada Bujang :
“Berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram.”
Keluarga Tauke Muda atau yang terkenal dengan nama Keluarga Tong adalah salah satu keluarga penguasa shadow economy. Mereka bukan mafia, triad, yakuza, atau apapun itu. Ada dua orang penting yang ada di rumah Tauke. Satu bernama Kopong, kepala tukang pukul. Dua, Mansur, kepala keuangan, logistik, dan lain-lain.
Sesampainya di markas besar Keluarga Tong, Bujang disambut dengan baik. Ia memiliki teman sekamar bernama Basyir, tidak butuh waktu lama, mereka pun akrab.
Di keluarga tong, Bujang tidak diizinkan menjadi tukang pukul, ia disuruh untuk belajar bersama Frans untuk mengejar ketertinggalannya karna selama 15 tahun Bujang sama sekali belum mengenyam pendidikan resmi. Hari demi hari, bujang terus dijejali ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah, hal ini membuat Bujang merasa jenuh. Hingga suatu ketika, Bujang merajuk tidak mau belajar lagi dan meminta kepada Tauke untuk menugaskannya sebagai tukang pukul. Awalnya Tauke menolak, hingga akhirnya ia memiliki ide bagus untuk menuruti keinginan Bujang.
Dalam keluarga Tong, setiap perekrutan tukang pukul selalu diadakan sebuah ritual bernama Amook. Ritual aturannya sederhana, satu orang melawan puluhan bahkan ratusan petarung. Jika satu orang itu mampu menahan gempuran dalam waktu tertentu, ia menang. Bujang hanya diminta bertahan dua puluh menit. Sayang ia hanya bertahan 19 menit. Ia gagal, sehingga ia tetap harus belajar bersama Frans.
Bujang adalah anak yang pandai, dalam waktu singkat ia bisa mengejar ketertinggalannya di SMA dan ia berhasil diterima di Universitas ternama di Ibu Kota. Karena keberhasilannya tersebut, akhirnya Bujang diizinkan Tauke untuk menjadi tukang pukul. Ia punya kesempatan belajar bela diri. Selepas belajar dengan buku dan pulpen di siang hari, ia belajar tinju di malam hari. Guru pertamanya adalah Kopong. Komandan tukang pukul Keluarga Tong. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia berlatih, amat keras. Akhirnya Bujang berhasil meng-KO gurunya itu. Itu artinya latihan tinjunya selesai dan harus berganti guru.
Guru berikutnya tak kalah hebat, Guru Bushi namanya. Asli Jepang, ia adalah salah satu Samurai yang masih tersisa di zaman modern ini. Bersama Guru Bushi Bujang berlatih menggunakan pedang, katana, shuriken, dll. Latihan yang seru bersama mantan ninja yang andal itu. Berbulan-bulan Bujang terus berlatih. Hingga tiba saat Guru Bushi mengatakan cukup. Lantas Bujang berlatih dengan Salonga. Seorang penembak jitu asal Filipina. Dengan guru menembaknya itu ia juga belajar filosofi hidup. Selain berlatih beladiri, Bujang juga terus melanjutkan sekolah. Ia bahkan mengenyam pendidikan magister di luar negeri.
Waktu melesat sangat cepat. 20 tahun kemudian. Bujang, anak Talang nan malang itu berubah menjadi pribadi yang sangat mantap. Akademis, kokoh, dan bermata tajam. Dia menyelesaikan banyak masalah tingkat tinggi yang terjadi di keluarga Tong. Namun, masalah demi masalah muncul, hingga tiba saatnya keluarga Tong berada di puncak kejayaan, Sang Pengkhianat keluar dan memicu peperangan. Penghianat itu adalah Basyir. Basyir ingin balas dendam karena keluarganya di bunuh oleh Keluarga Tong saat bertarung dengan Keluarga Arab. Saat pengkhianatan itu, Bujang dan teman-temannya terdesak dalam pertempuran. Bujang, Tauke Muda dan Parwez terpaksa pergi dari markas Keluarga Tong melalui lorong rahasia yang dibangun atas usulan Kopong. Ujung lorong tersebut adalah halaman rumah Tuanku Imam, Kakak tertua dari Hamidah, Mamaknya Bujang.
Tuanku Imam memberinya pertolongan dan pemahaman agama, sedangkan Tauke Muda sudah meninggal. Sejak saat itu, Bujanglah yang menggantikan Tauke Muda dan berjuang merebut kembali pemerintahan Keluarga Tong dari tangan Basyir. Akhirnya, Bujang berhasil memenangkannya dengan dibantu orang-orang terdekatnya dan anggota Keluarga Tong yang masih setia. Detik-detik dikalahkannya Basyir inilah yang membuat Bujang mengerti bahwa pulang yang dimaksud selama ini adalah pulang pada hakikat kehidupan itu sendiri.
Novel Pulang ini mengandung banyak nilai positif yang dapat diambil, diantaranya adalah tentang kebaktian seorang anak terhadap ibunya serta nilai-nilai agama. Selain itu, hal yang juga dapat mempengaruhi pembaca adalah tentang pengetahuan ekonomi gelap di negara kita. Terlepas dari jenis buku ini, yakni novel, pastilah pembaca mendapatkan tambahan baru mengenai serangkaian kegiatan ekonomi gelap yang ada di negara kita. Ini akan membentuk pola pikir pembaca lebih dewasa terhadap ekonomi di negara kita. So, untuk kalian yang ingin mengerti lebih jauh tentang dunia ekonomi gelap di negara ini maupun di dunia, novel ini sangatlah tepat untuk kalian baca dan pahami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar